Sa’altuka Ya Ghaffar

Oleh: H. Zuhri

Dari platform youtube, tepatnya short youtube, hari-hari ini saya disuguhi suara merdu, berat dan berwibawa dari seorang Kyai muda, minimal dilihat dari wajahnya. Beliau mendendangkan atau tepatnya beliau membacakan beberapa bait lirik syair, sebuah syair yang nampaknya asing.

(lihat: https://www.youtube.com/shorts/YbHv8lplbCg)

Saya sendiri yang tidak ahli syair,  baru mendengarnya. Suaranya agak berat dan sedih. Saya juga tidak tahu apakah rekaman suara itu asli, ataukah sudah ada campur tangan AI yang menjadikan semuanya kayak nyentuh banget di hati.  Makna-makna yang terkandung, sepemahaman  saya, tampak sangat  emosional. Bait-bait liriknya, yang dapat didengar dari link youtube di atas, adalah sebagai berikut;

سألتك يا غفار عفوا وتوبة  #  وبالقهر يا قهار خذ من تحيلى

Wahai Allah zat yang Maha Pengampun,  memohon  kepada-Mu pertobatan dan ampunan. Wahai  Allah zat yang Maha  Perkasa, dengan keperkasaanmu ambillah orang-orang yang telah melakukan tipu muslihat  dan ingin mencelakai kami.

يا جبار يا قهار يا ذا البطش الشديد  خد حقنا وحق المسلمين ممن  ظلمنا و المسلمين، وتعدي  علينا وعلى المسلمين

Wahai zat yang Maha Mengalahkan,  zat yang Maha Menundukkan,  zat yang keras azab-Nya. Ambilkan hak-hak kami  dan hak-hak orang-orang Muslim dari  orang-orang yang menzalimi kami, dan menzalami orang-orang Muslim.  (Ambilkan hak-hak kami dan hak-hak orang Muslim), dari orang-orang yang menganiaya kami dan menganiaya orang-orang Muslim.

Ketika saya googling dan searching  tentang beliau,  panggilannya  Gus Ipul, tentu bukan Saifullah Yusuf, Menteri sosial yang juga kerap dipanggil Gus Ipul.  Yang ini Gus Saifullah  Faqihuddin Zahid. Sekali lagi saya tidak tahu persis penulisan namanya yang benar seperti apa. Tidak ada informasi dalam bentuk  narasi tertulis, dokumentasi atau laporan tertulis lainnya tentang beliau, yang ada hanya  beberapa link berbasis suara seperti sporty, tiktok, dan youtube

Informasi lain yang berhasil saya telusuri, bahwa bait-bait di atas merupakan kalimat-kalimat istigasah dan ternyata  pertama kali dibacakan oleh Gus Lik, nama lengkapnya KH. Douglas Toha Yahya (w. 2024). Suara yang di youtube itu suara siapa? Sekali lagi saya juga tidak menjawabnya. Untuk riset lebih lanjut tentu perlu menelusuri di  komunitas pengajian malam Jumat di Pesantren Jamsaren. Artinya untuk sementara,  judul saaltuka di chanel youtube, Instagram, X, atau tik-tok di atas, saya menduga merupakan bagian dari ibarah istigasah, yang aslinya ada semacam iftitah yang terpotong, kira-kira satu baris. 

Kandungan iftitah dalam istigasah tersebut secara harfiah meminta pertolongan kepada Tuhan. Yang ditulis oleh Gus Lik dan kemudian  potongan  kalimatnya dipopulerkan pegiat youtuber dengan subjek atau tokohnya  Gus Ipul  dari Cepoko Nganjuk. Baik Gus Lik maupun Gus Ipul  tentunya tidak jauh dari keluarga besar para mashayikh  dari pesantren-pesantren besar seperti Lirboyo. Tentang ta’bir istigasah di atas, atau saya mengasumsikannya sebagai  bagian dari bait-bait suatu syair yang ditulis oleh penyair. Sejauh penelusuran yang saya lakukan, di luar iftitah yang tertulis:


بِسْمِ اللهِ مَاشَآءَ اللهُ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ إلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَآءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَآءَ اللهُ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ ×٣

Kalimat pembuka (Ifitah) ini, kalau dikumpulan istigasah yang ditulis oleh KH. Romli Tamim (w. 1958), ulama besar  dan santri KH Hasyim Asy’ari, dari  Rejoso yang sekaligus putra pendiri  pesantren Rejoso Petorangan,  iftitah tersebut ada di Tengah-tengah  teks istigasahnya. Secara genealogis, teks tersebut  awalnya merupakan hadis  Nabi yang diriwayatkan oleh  al-Hasan ibn Razin al-Kufi.  Ibn ʿAdī (w. 365 H), dalam al-Kāmil fī Ḍuʿafāʾ al-Rijāl,  mengidentifikasi  al-Hasan sebagai perawi hadis yang lemah.  Ibn Asakir dalam  Tarikh Madinah al-Dimasqa juga menyebut hadis tersebut. Yang jelas ada potongan awal yang lepas dari teks tersebut  yakni:

يلتقي الخضر وإلياس عليهما السلام كل عام بالموسم بمنى فيحلق كل واحد منهما رأس صاحبه فيتفرقان عن هؤلاء الكلمات

Intinya, dalam  rujukan klasik seperti karya Ibn Adi dan Ibn Asakir, teks di atas merupakan hadis yang  sanadnya  bahkan sampai pada Ibn Abbas,  meskipun diragukan atentitasnya (daif).  Artinya, bisa jadi awalnya  merupakan teks hadis, namun di-framing menjadi suatu teks istigatsah. Suatu pola yang biasa dilakukan oleh para ulama untuk membangun teks-teks keagamaan yang berfungsi  memudahkan dan lebih mendekatkan kepada penganutnya atau umatnya.

Bagian tengah teks tersebut yakni;

سألتك يا غفار عفوا وتوبة  #  وبالقهر يا قهار خذ من تحيلى

Penelusuran paling mudah sering diidentifikasi sebagai bagian dari potongan doa istigatsah yang ditulis KH Romli Tamim atau doa-doa istigatsah pada umumnya, sementara penelusuran paling jauh yang saya lakukan  terdapat pada karya Qasidah al-Dimyati  atau disebut juga qasidah al-Asma al-Husna persisnya pada bait ke-11, meskipun kalimat  من تحيلى  ditulis  dengan:  من تحايلا     yakni kumpulan syair yang ditulis oleh  ulama  Mesir Nuruddin al-Dimyati  (w. 727 H.).

Pada bagian akhir teks, yakni;

يا جبار يا قهار يا ذا البطش الشديد  خد حقنا وحق المسلمين ممن  ظلمنا و المسلمين، وتعدي  علينا وعلى المسلمين

Saya menduga teks tersebut merupakan bagian dari teks hizib nashar,  ta’bir  atau doa istigatsah yang ditulis oleh   Abu Hasan al-Syazili (w.  656 H.), pendiri Tarikat Syadziliyah, sekaligus ulama besar dari Fez Maroko, tetapi setalah saya chek tidak ada kalimat yang sama, mesikpun  pilihan-pilihan diksinya sangat mirip. Apa yang saya dengar dariYoutube  tentang potongan syair yang berisi tentang doa di atas ternyata lahir dari sejarah panjang, di mana  insturmen-instrumen sprititualitas, gugahan hati dalam  keagamaan Islam cukup mendalam dan kompleks, terlebih lagi sanadnya dapat ditelusuri sampai ke era peradaban Islam abad  pertengahan. Semua itu seakan saling tumpang-tindih, ada pemotongan teks dari sana-sini (iqtibas). Namun nuasa, ikatan batin, dan sentuhan  spiritualitasnya tetap terjaga. Begitu pun dengan semangat keagamaan yang melawan hegemoni kuasa politik, kolonialisme, sebagaimana tercermin dari al-Syadzili, al-Dimyati dan KH. Romli Tamim, dalam konteks keindonesiaan.

Pada hari ini konteks tersebut hilang, dan jangan-jangan lantunan doa di atas tanpa makna. Kalaupun bermakna, mungkin musuh-musuh umat Islam hari ini adalah diri sendiri dan korupsi. Masalahnya, ketika fakta-fakta digital seperti di atas bertransformasi menjadi pengetahuan keagamaan yang berjejaring bukan secara fasad tetapi juga jejaring secara daring, dengan segala perangkat sosial dan antropologisnya,  ada  nuansa-nuansa  dan sekaligus proses mitifikasi teks tersebut di Masyarakat yang ditandai dengan lepasnya konteks historis dan alpanya kontekstualisasi di tengah-tengah melubernya kajian dan informasi keagamaan secara daring. Apakah kemudian kebenaran  itu cukup sedatar platform sebagaimana kita nikmati hari ini?  Dari kasus di atas, jawabannya tegas; tidak cukup.

Waktu Magrib, 16 Agustus 2026.  

Scroll to Top