Ilusi Mengunci Masa Lalu: dari Amnesia Lisan hingga Fleksibilitas Teks

Ilusi teks

Ada anggapan umum di tengah kita. Berbunyi, ”jika ingin masa lalu tidak berubah, tuliskanlah.”

Kita sering membayangkan bahwa tradisi lisan itu seperti permainan “bisik berantai” yang mudah terdistorsi, gampang lupa, dan rentan dimanipulasi. Sebaliknya, tulisan dianggap sebagai ruang penyimpanan yang steril dan abadi. Ketika sebuah peristiwa diukir di atas batu prasasti, ditulis di kertas papirus, atau dibukukan menjadi manuskrip, kita merasa sejarah telah berhasil dijaga dan dikunci rapat-rapat.

Namun, benarkah tulisan benar-benar sanggup memfiksasi sejarah? Atau jangan-jangan, tulisan hanyalah cara kita memindahkan arena pergeseran makna ke bentuk yang lain?

Ketika Masa Lalu Dihapus demi Masa Kini

Dalam antropologi, ada konsep menarik bernama Structural Amnesia (Amnesia Struktural). Konsep yang dirumuskan oleh Jack Goody dan Ian Watt ini menjelaskan bagaimana masyarakat lisan mengelola ingatan mereka secara alami (homeostatis).

Dalam kultur lisan, sejarah tidak disimpan dalam lemari arsip, melainkan hidup dalam memori masyarakatnya. Uniknya, jika ada silsilah keluarga, cerita asal-usul, atau hukum adat yang sudah tidak lagi relevan dengan struktur sosial hari ini, memori itu akan dilupakan secara perlahan tanpa ada yang merasa memalsukannya.

Sebagai contoh, ketika dua suku yang tadinya bermusuhan memutuskan untuk berdamai, narasi lisan tentang perang di masa lalu secara bertahap akan tereliminasi. Ingatan kolektif secara otomatis berevisi demi menjaga keharmonisan hari ini. Sejarah lisan, dengan kata lain, bukan tentang merekam masa lalu secara positivistik, melainkan tentang melayani kegunaan sosial masa kini.

Tentu saja, amnesia lisan ini punya benteng pertahanan. Ketika sebuah narasi lisan dibungkus dengan struktur puisi yang ber-metrum, rima, atau sistem hafalan sakral yang memiliki kontrol ketat (seperti tradisi hafalan teks keagamaan), amnesia ini bisa ditekan. Namun pada narasi sosial-politik yang bebas, amnesia lisan bekerja dengan sangat efektif.

Contoh yang lain dapat dilihat dari kasus silsilah Kerajaan Gonja di Afrika Barat. Goody menemukan fenomena unik ketika membandingkan catatan silsilah/pembagian wilayah Kerajaan Gonja yang ditulis oleh penguasa Inggris pada awal abad ke-20 dengan narasi lisan masyarakat Gonja 60 tahun kemudian. Pada awal abad ke-20, narasi lisan Gonja mencatat bahwa pendiri kerajaan memiliki 7 orang putra, yang cocok dengan 7 divisi wilayah kerajaan saat itu.

Namun, 60 tahun kemudian, karena dinamika politik dan ekonomi, dua divisi wilayah telah lenyap/dilebur sehingga tersisa 5 divisi. Ketika Goody mengecek kembali narasi lisan masyarakat setempat, mereka secara alami menyatakan bahwa pendiri kerajaan hanya memiliki 5 orang putra.

Masyarakat Gonja tidak merasa berbohong atau memalsukan sejarah. Memori lisan mereka secara otomatis merevisi masa lalu agar selaras (homeostatic) dengan struktur sosial 5 wilayah yang ada di masa kini. Dari temuan etnografis inilah istilah Structural Amnesia lahir.

Ilusi Kepastian di Atas Kertas

Lantas, apa yang terjadi ketika masyarakat mulai mengenal aksara dan membukukan narasinya?

Seketika itu juga, proses amnesia alami terhenti. Sementara. Teks tertulis memfiksasi satu versi narasi dan membekukannya di dalam waktu (frozen in time). Di sinilah timbul ilusi bahwa kita telah berhasil mengunci kebenaran.

Nyatanya, tulisan tidak pernah benar-benar imun dari distorsi. Teks tertulis mencabut kata-kata dari konteks penuturan aslinya. Ketika juru tulis (scribe) menyalin sebuah manuskrip, atau ketika elit penguasa memegang kendali atas kodifikasi teks, politik filologi mulai bekerja melalui agen tertentu.

Agen dapat melakukan penyelipan kalimat (interpolation), penghilangan bagian tertentu (omission), hingga framing redaksional kerap terjadi demi menyelaraskan teks dengan kepentingan teologis atau politik penguasa zamannya.

Namun, ada hal yang jauh lebih mendasar dari sekadar manipulasi penyalin, yaitu materialitas ortografi itu sendiri.

Dinamika Ortografi: Ketika Satu Huruf Mengubah Peristiwa

Huruf di atas kertas tidak sesolid yang kita bayangkan. Dalam sejarah perkembangan aksara, seperti ortografi Arab klasik sebelum ditemukannya sistem titik (ijam) dan tanda baca (syakal), teks tertulis justru menyimpan fleksibilitas yang sangat radikal.

Aksara gundul (rasm) pada masa awal menciptakan bentuk visual yang sama untuk beberapa huruf berbeda. Satu garis lurus dengan lekukan bawah yang sama bisa dibaca sebagai ba, ta, tsa, nun, atau ya.

Bayangkan sebuah pesan diplomatik atau surat perintah militer di masa lalu yang ditulis tanpa titik dan harakat. Maka bukan hal yang mengagetkan ketika ada pergeseran baca dan penafsiran antara kata اُقْتُلْ (uqtul – “bunuhlah”) dan اُقْبَلْ (uqbul – “terimalah”).  Pergeseran itu bukan sekadar perdebatan linguistik, melainkan urusan hidup mati di lapangan. Dan ini terjadi dalam sejarah. ‎ Tercatat di At-Tashif wa at-Tahrif,” dalam Majallat al-Majma’ al-‘Ilmi al-‘Arabi, Vol. 19, No. 11-12, 1944, diceritakan:

“…Seorang pemimpin menulis surat kepada gubernurnya mengenai tawanan: ‘Uqbulhum’ (Terimalah/bebaskan mereka). Namun gubernur tersebut membacanya: ‘Uqtulhum’ (Bunuhlah mereka), dikarenakan ketiadaan titik… maka tumpahlah darah yang diharamkan hanya karena perubahan satu huruf.

Di sini kita melihat ironi atau bahkan bencana teks (balaa’un ‘ala al-kutub). Di mana usaha untuk memfiksasi perintah melalui tulisan justru melahirkan ruang ketidakpastian baru, yang bergantung pada siapa yang membaca beserta kondisi psikisnya dan pada yang memberi tanda baca pada teks tersebut secara imajiner.

Adanya bencana pada teks (balaa’un ‘ala al-kutub) tersebut, para ulama pada akhirnya melakukan tindakan metodologis. Adalah melakukan reformasi ortografi yang diprakarsai oleh tokoh seperti Al-Hajjaj bin Yusuf, Yahya bin Ya’mur, dan Nasr bin ‘Ashim melalui pemberian nuqath (titik). Semua itu adalah upaya dan proses pengeliminasi anomali baca dan distorsi pesan.

Kata yang Sama, Makna yang Bergeser

Apakah fiksasi teks telah berhasil? Belum tentu. Bahkan ketika ortografi sudah lengkap dengan titik dan harakat, teks tetap tidak bisa dikunci. Mengapa? Karena adanya pergeseran semantik (concept drift).

Sejarawan Jerman Reinhart Koselleck, melalui metode Begriffsgeschichte (Sejarah Konsep), mencatat bagaimana kata-kata kunci di Eropa seperti “Staat” (Negara) atau “Revolution” (Revolusi) mengalami pergeseran radikal.

Pada abad ke-16 zaman ketika Machiavelli hidup, kata revolutio dalam teks-teks Eropa menandung arti “perputaran kembali ke titik awal” (seperti perputaran planet atau siklus alami). Namun pada abad ke-18 (pasca-Revolusi Prancis), kata yang ejaannya sama ini berubah makna 180 derajat menjadi “perubahan radikal ke depan yang memutus masa lalu”.

Jika sejarawan hari ini membaca teks abad ke-15 menggunakan pemahaman kata “Revolusi” abad ke-21, maka akan terjadi distorsi anakronistis. Sebuah kata kunci teologis, politik, atau filsafat bisa saja ejaannya tidak berubah selama seribu tahun. Namun, kepala manusia yang membacanya terus berubah dari abad ke abad dan tidak akan penah sama.

“Semua yang ada di dunia ini akan berubah. Hanya satu yang tidak berubah. Yakni, perubahan itu sendiri.” – Heraclitus

Apa kaitannya kutipan yang telah terparafrase di atas?

Demikian. Ketika pembaca modern membaca teks abad ke-8, mereka hampir selalu memproyeksikan asumsi, paradigma, dan kosa kata zamannya sendiri ke dalam teks kuno tersebut. Kata yang sama akhirnya mengandung beban makna yang sama sekali berbeda.

Sebagaimana digagas oleh Jacques Derrida, tulisan selalu mengalami différance atau penundaan makna yang tak pernah usai. Setiap kali sebuah teks kuno dibaca ulang, kita sebenarnya tidak sedang mendengarkan suara murni dari masa lalu, melainkan sedang memantulkan bayangan dari masalah-masalah kita hari ini.

Tidak hanya itu, dalam pikiran Martin Heidegger juga mengandung gagasan serupa. Ia menyebutnya dengan hermenuetika faktisitas proyektif dan konsepsi enwurf. Tentu tidak akan kita bahas di sini, karena telalu panjang. Kita bahas lain waktu pada tulisan yang lain. Pada intinya, perubahan adalah bentuk keniscayaan. Tidak ada yang absuolut, kecuali ketidak-absoulutan itu sendiri.   

Ketidak-absoulut teks dan bahasa terjadi di berbagai peradaban. Sehingga bukan hanya  terjadi di peradaban Arab semata.

/1/ Peradaban Yunani-Kuno dan Latin

Sebelum abad pertengahan, naskah Yunani dan Latin kuno ditulis menggunakan metode Scriptio Continua. Dalam buku Space Between Words: The Origins of Silent Reading, dijelaskan bahwa penulis teks di masa itu menuliskan seluruh kalimat tanpa spasi, tanpa tanda baca, dan tanpa huruf kapital/kecil. Kalimat Latin GATORUM misalnya, bisa dibaca sebagai Gato rum (berarti: minuman kucing) atau Gator um tergantung di mana penyalin meletakkan pemisahan kata (word division).

Begitu pun terjadi dalam tradisi penerjemahan Kitab Kuno (Septuaginta). Merujuk pada buku Textual Criticism of the Hebrew Bible, dijelaskan,  Kitab Yesaya 7:14 menggunakan kata Ibrani ‘almah (עַלְמָה) yang bermakna “seorang perempuan muda yang siap menikah”. Namun, ketika ditranslasikan ke dalam bahasa Yunani Koine untuk Septuaginta, kata ini diterjemahkan menjadi parthenos (παρθένος) yang secara spesifik bermakna perawan/virgin.

Pergeseran satu kata akibat proses translasi ortografis-linguistik ini menjadi fondasi teologis mendasar dalam peradaban Barat mengenai doktrin Virgin Birth (Kelahiran dari Perawan) selama berabad-abad.

/2/ Peradaban Tiongkok Kuno

Menurut William G dalam bukunya The Origin and Early Development of the Chinese Writing System, dijelaskan, masa Dinasti Zhou dan Han, teks Klasik Tionghoa ditulis di atas bilah bambu (bamboo slips) tanpa tanda baca (Jundou / 句讀). Konsekuensinya dualitas makna, dalam karya Konfusius (Analects), tidak dapat dihindari. Kalimat terkenal Konfusius (Analects) yang memiliki dualitas makna, sebagai berikut.

民可使由之不可使知之

Kalimat ini ketika berada pada paradigma pembacaan tradisional (Feodal) menghasilkan bunyi:

 “Rakyat bisa diperintah untuk mengikuti, tetapi tidak bisa diperintah untuk memahami.”

Sedangkan kita ditinjau dari pembacaan modern (Demokratis) menghasilkan bunyi:

“Rakyat yang bisa dibuat paham, biarkan mereka mengikuti; rakyat yang tidak bisa dibuat paham, buatlah mereka paham.”

Bagaimana? Hanya karena perbedaan meletakkan jeda atau pemotongan kalimat (sentence breaking), satu deretan karakter yang sama melahirkan dua filosofi politik yang bertolak belakang selama ribuan tahun di Asia Timur.

/3/ Peradaban India Klasik

Tradisi Sansekerta klasik mengenal teks berbentuk Sutra, yakni susunan kalimat yang dibuat sangat padat dan terkompresi agar mudah dihafalkan secara lisan sebelum akhirnya dituliskan. Karena bentuknya yang amat ringkas, teks Sutra (seperti Brahma Sutra) tidak bisa dipahami tanpa naskah komentar (Bhasya). Satu teks Brahma Sutra yang sama akhirnya melahirkan dua mazhab filsafat Hindu yang saling berlawanan: Shankara merumuskan filsafat Advaita Vedanta (Monisme radikal), sementara Ramanuja membaca teks yang sama persis untuk merumuskan Vishishtadvaita (Kualifikasi Monisme).

Dalam tulisan ini kami tidak dapat menjelaskan secara rinci. Namun bagi pembaca yang hendak mengetahui lebih jauh, dapat mengeksplorasi karya Sheldon Pollock yang berjudul  The Language of the Gods in the World of Men: Sanskrit, Culture, and Power in Premodern India dan karya Sarvepalli adhakrishnan  yang berjudul The Indian Philosophy: Volume II.

PeradabanPenyebab Utama Pergeseran TeksDampak Realitas Sejarah
Arab KlasikAksara gundul (rasm) tanpa titik (ijam) dan harakat (syakal).Variasi bacaan (qira’at) dan perbedaan hukum/instruksi.
Yunani & LatinScriptio Continua (tanpa spasi) & pergeseran kata terjemahan.Reorientasi doktrin teologi dan hukum Barat.
Tiongkok KlasikKetiadaan tanda baca (Jundou) pada aksara Hanzi.Pembacaan politik feodal vs demokratis atas karya Konfusius.
India (Sansekerta)Kondensasi ekstrem gaya bahasa Sutra.Perpecahan mazhab-mazhab besar filsafat Vedanta.
Eropa ModernConcept Drift (pergeseran semantik kata yang ejaannya terkunci).Anakronisme dalam membaca konstitusi dan dokumen sejarah.

Menerima Antara Arsip dan Konteks

Akhirnya, perbedaan antara tradisi lisan dan tulisan bukanlah tentang “mana yang palsu dan mana yang asli”, melainkan tentang bagaimana cara maknanya bergeser.

Dalam Tradisi Lisan, sejarah bergeser secara cair dan organik melalui amnesia kolektif tanpa meninggalkan jejak dokumen. Dalam Tradisi Tulisan, sejarah bergeser melalui fleksibilitas ortografi, pilihan varian bacaan, penyuntingan redaksional, dan hermeneutika penafsiran pembacanya.

Tidak ada arsip murni yang steril dari zamannya. Baik lisan maupun tulisan, keduanya adalah medan pergulatan makna. Menyadarinya membuat kita lebih bijak dan kritis dalam membaca teks dan sejarah.

Bahwa di balik setiap baris kalimat yang rapi terukur, selalu ada sejarah penulisan, pembacaan, dan penyelarasan makna yang tidak pernah benar-benar selesai. Ada maksud dan ada nilai yang diarahkan. Setiap teks yang ditulis ada cita-cita manifestasi kontrol yang harus dibayar tuntas.

George Orwell merekam fenomena ini dengan sangat brilian dalam novel 1984 melalui Ministry of Truth dengan jargon terkenalnya,

“Who controls the past controls the future: who controls the present controls the past.”

[Muhammad Faisal Dhuhimamul Hilmi]

Scroll to Top