
Jogjakarta, Risalatuna.com — Suasana khidmat menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Al Risalah pada Kamis (22/10/2026). Bersamaan dengan peringatan Hari Santri Nasional, pesantren yang berlokasi di Kalasan, Sleman ini juga merayakan tonggak sejarah penting: Milad atau Harlah ke-8 (Sewindu) berdirinya institusi.
Perayaan sewindu ini dikemas secara khusyuk melalui kegiatan istigasah bersama. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan tahlil, dilanjutkan dengan pelantunan Maulid Ad-Diba’i yang menggema dari para santri, dan ditutup dengan mauidhatul hasanah serta doa bersama yang dipimpin langsung oleh pengasuh pesantren, Prof. Dr. H. Zuhri, M.Ag.
Di sela-sela acara, pembawa acara (MC), Irwan, sempat menyampaikan refleksi ringkas yang menggugah hadirin. “Terkadang kita perlu melihat masa lalu bukan semata untuk mengenang, melainkan untuk merajut visi ke depan,” ujarnya di hadapan para santri dan jamaah yang hadir.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Panitia Harlah Sewindu, Ahmad Asyrof, menekankan bahwa esensi pendidikan di pesantren jauh melampaui batas-batas tekstual.
“Santri bukan hanya mempelajari ilmu, tapi juga mempraktikkan akhlak sebagai pengejawantahan dalam meneladani Nabi Muhammad SAW,” tegasnya.
Semangat kebersamaan dan optimisme tersebut turut dirangkum dalam jargon resmi perayaan tahun ini yang diserukan bersama: “Sewindu Al-Risalah: Sukses, Jaya, Barokah.”
Puncak acara diisi dengan pesan mendalam dari Prof. H. Zuhri. Dalam ceramahnya, beliau mengingatkan kepada dirinya sendiri dan seluruh santri agar senantiasa menjaga orientasi batin, khususnya dalam merawat keikhlasan selama berproses menuntut ilmu dan mendalami diskursus keislaman.
Dengan nada reflektif, Prof. Zuhri berpesan, “Ketakutan terbesar saya adalah hilangnya keikhlasan dalam berproses. Kita juga perlu kembali mengingat sejarah, visi, dan tujuan pendirian pesantren ini.”
Peringatan Hari Santri yang beriringan dengan sewindu Al-Risalah ini diharapkan menjadi momentum penguat bagi para santri untuk terus membumikan nilai-nilai keislaman yang moderat, intelektual, dan berakhlak mulia di tengah dinamika zaman.
Rep. Faisal Hilmi
