
***
Bagi orang yang baru pertama kali membuka kitab kuning, tampilannya mungkin tampak membingungkan. Di tengah halaman terdapat teks utama, sementara di sela-sela atau pinggirnya dipenuhi tulisan-tulisan lain yang seolah berebut ruang. Sekilas terlihat semrawut. Namun, justru di sanalah tersimpan salah satu tradisi intelektual paling khas dalam peradaban Islam: hasyiyah.
Pengertian Hasyiyah Secara Umum
Secara bahasa, hasyiyah berarti catatan pinggir, sedangkan menurut istilah hasyiyah berarti penjelasan, keterangan, atau uraian yang ditulis pada bagian tepi kitab untuk menerangkan matan (teks) yang belum jelas dalam kitab hadis, tafsir, tauhid, fiqih, dan sebagainya. Aspek matan yang dijelaskan pun bermacam, mulai dari bahasa, sejarah, hingga kritik terhadap periwayatan sebuah hadis. Haji Khalifah, Kashf al-Ẓunūn, 1:623; ‘Abd al-Salām Hārūn, Taḥqīq al-Nuṣūṣ wa Nashruhā, 86; ‘Abd al-Muta‘āl al-Ṣa‘īdī, Tārīkh al-Iṣlāḥ fī al-Azhar, 56.
Sejarah mencatat, bahwa dalam menjelaskan matan kitab dalam sebuah kitab, ulama terdahulu belum memiliki sistem dan panduan yang baku, terkadang penjelasan ditulis langsung di antara baris-baris teks, ada juga ulama yang menuliskan catatan pinggir dengan menulisnya pada sisi-sisi halaman kitab. Adapun dalam edisi kitab yang sudah dicetak dan di tahqiq, penulisan hasyiyah umumnya diletakkan secara terpisah dengan teks asli, dan diletakkan pada bawah halaman kitab.
Perbedaan Hasyiyah dan Syarah
Setelah membaca paragraf di atas, timbul pertanyaan dalam benak kita, jika memang hasyiyah adalah penjelas , lalu apa bedanya dengan syarh yang juga berarti penjelas dari sebuah kitab?. Mari kita bahas.
Tak dapat dimungkiri bahwa syarah dan hasyiyah sama-sama berfungsi sebagai penjelas suatu teks. Namun, perbedaan di antara keduanya akan tampak lebih jelas apabila dilakukan perbandingan langsung antara kitab syarah dan kitab hasyiyah.
Secara umum, kitab syarah disusun untuk menerangkan teks secara sistematis, mulai dari penjelasan lafaz, menerangkan kalimat yang belum jelas, beserta argumentasi dari pengarang kitab. Penulis syarah juga menjelaskan setiap bab yang ada dalam kitab secara runtut dengan mengikuti susunan penulisan pengarang kitab yang di-syarah. Oleh karena itu, syarah memiliki kecenderungan disusun sebagai penjelas utama dari sebuah matan.
Contoh kitab syarah yang monumental yang dapat kita lihat sekarang adalah Fath al-Bari karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, kitab ini adalah penjelasan dari kitab Shahih Bukhari yang merupakan salah satu kitab induk yang menghimpun hadis-hadis yang shahih. Atau kitab Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim karya Imam Abu Zakaria an-Nawawi syarah dari Shahih Muslim, dan masih banyak lagi kitab syarah yang lain.
Di lain sisi, pembahasan hasyiyah jauh lebih kompleks, walaupun juga memiliki kegunaan sebagai penjelas matan, beberapa kitab hasyiyah disusun sebagai penjelasan ulang terhadap kitab syarah, dalam konteks ini hasyiyah dapat disebut sebagai syarah atas kitab syarah, dapat kita lihat kitab Hasyiyah Al-Bajuri karya Syekh Ibrahim Al-Bajuri yang memberikan penjelasan mendalam atas kitab Fathul Qarib sebagai contoh kitab hasyiyah yang menjadi penjelas dari kitab syarah yang lain.
Tak berhenti di situ, ternyata juga ada kitab hasyiyah yang disusun untuk menjelaskan kitab lain secara langsung tanpa menjadi syarah atas kitab syarah yang lain, seperti kitab Hasyiyah as-Sindi ‘ala Sunan ibn Majah, dan ‘Aun al-Ma’bud atau Hasyiyah ibn Qayyim ‘ala Sunan Abi Daud. Kitab-kitab tersebut disusun untuk memberikan catatan-catatan tepi dari kitab sunan tanpa perantara kitab lain.
Walaupun ada pendapat ulama lain yang menyebut kitab di atas sebagai kitab syarah, bukan hasyiyah. Perbedaan ini tentunya berlandaskan pada manuskrip yang digunakan untuk memberikan penamaan kitab oleh muhaqqiq sebagai rujukan cetakan oleh penerbit.
Sebagaimana dikutip dari NU.Online, dengan melakukan kajian manuskrip(filologi), metode penulisan kitab yang digunakan pengarang dapat diketahui untuk menentukan penamaan kitab oleh muhaqqiq dari pihak penerbitan.
Perbedaan syarah dan hasyiyah yang lain dapat adalah: bahwa penjelasan yang ada dalam kitab hasyiyah tidak lebih panjang dari kitab syarah, sesuai namanya, kitab hasyiyah berisikan catatan pinggir sebagai penjelas sekaligus pelengkap kitab, maka catatan-catatan ini tidak selalu ditemukan di setiap halaman, dan catatan yang dicantumkan cenderung ringkas.
Namun, tidak sedikit pula hasyiyah yang justru berkembang menjadi karya yang sangat tebal dan lebih luas pembahasannya. Oleh karena itu, pembeda utama keduanya bukanlah jumlah halaman, melainkan objek penjelasannya. Syarah berfokus menjelaskan matan secara langsung, sedangkan hasyiyah memberikan penjelasan, komentar, atau kritik terhadap uraian yang telah ada, baik terhadap matan maupun terhadap kitab syarah yang telah lebih dahulu disusun.
Dari tradisi penulisan hasyiyah ini, kita dapat melihat bahwa ulama Islam klasik tidak hanya mewariskan ilmu, tetapi juga membangun budaya akademik yang hidup. Sebuah karya tidak diperlakukan sebagai teks yang selesai, melainkan sebagai ruang dialog yang selalu terbuka untuk diberi penjelasan, kritik, penyempurnaan, dan pengembangan. Karena itulah lahir syarah, hasyiyah, hingga taqrir yang saling melengkapi dalam satu mata rantai keilmuan. Wallahua’lam.