***
Hasyiyah: Tradisi Catatan Pinggir Dalam Peradaban Ilmu Islam – Tradisi hasyiyah dalam Islam merupakan salah satu warisan intelektual yang paling khas dalam peradaban keilmuan Islam. Bagi orang yang baru pertama kali membuka kitab kuning, tampilannya mungkin tampak membingungkan.
Di tengah halaman terdapat teks utama, sementara di sela-sela atau pinggirnya dipenuhi tulisan yang seolah berebut ruang. Sekilas terlihat semrawut. Namun, justru di sanalah tradisi hasyiyah berkembang sebagai media penjelasan, kritik, dan dialog ilmiah antarulama.
Pengertian Hasyiyah Secara Umum
Secara bahasa, hasyiyah berarti catatan pinggir. Dalam istilah keilmuan Islam, hasyiyah adalah penjelasan, keterangan, atau uraian yang ditulis pada bagian tepi kitab. Catatan tersebut berfungsi menerangkan matan (teks) yang belum jelas dalam kitab hadis, tafsir, tauhid, fikih, dan disiplin ilmu lainnya.
Aspek matan yang dijelaskan pun bermacam, mulai dari bahasa, sejarah, hingga kritik terhadap periwayatan sebuah hadis.Haji Khalifah, Kashf al-Ẓunūn, 1:623; ‘Abd al-Salām Hārūn, Taḥqīq al-Nuṣūṣ wa Nashruhā, 86; ‘Abd al-Muta‘āl al-Ṣa‘īdī, Tārīkh al-Iṣlāḥ fī al-Azhar, 56.
Sejarah mencatat bahwa pada masa Nabi hingga ulama mutaqaddim belum ada sistem baku dalam menjelaskan matan kitab. Sebagian ulama menulis penjelasan langsung di antara baris-baris teks. Sebagian lainnya menuliskan catatan pada sisi atau pinggir halaman kitab.
Adapun dalam edisi kitab yang sudah dicetak dan di tahqiq, penulisan hasyiyah umumnya diletakkan secara terpisah dengan teks asli, dan diletakkan pada bawah halaman kitab.
Perbedaan Hasyiyah dan Syarah
Setelah membaca paragraf di atas, timbul pertanyaan dalam benak kita, jika memang hasyiyah adalah penjelas , lalu apa bedanya dengan syarh yang juga berarti penjelas dari sebuah kitab?. Mari kita bahas.
Tak dapat dimungkiri bahwa syarah dan hasyiyah sama-sama berfungsi sebagai penjelas suatu teks. Namun, perbedaan di antara keduanya akan tampak lebih jelas apabila dilakukan perbandingan langsung antara kitab syarah dan kitab hasyiyah.
Secara umum, kitab syarah disusun untuk menerangkan teks secara sistematis, mulai dari penjelasan lafaz, menerangkan kalimat yang belum jelas, beserta argumentasi dari pengarang kitab.
Penulis syarah menjelaskan setiap bab secara runtut dengan mengikuti susunan kitab asli. Karena itu, syarah berfungsi sebagai penjelas utama terhadap suatu matan.
Contoh kitab syarah yang monumental yang dapat kita lihat sekarang adalah Fath al-Bari karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, kitab ini adalah penjelasan dari kitab Shahih Bukhari yang merupakan salah satu kitab induk yang menghimpun hadis-hadis yang shahih.
Atau kitab Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim karya Imam Abu Zakaria an-Nawawi syarah dari Shahih Muslim, dan masih banyak lagi kitab syarah yang lain.
Baca tulisan kami yang lain di sini.
Perbedaan Internal dalam Hasyiyah
Di sisi lain, hasyiyah memiliki cakupan yang lebih kompleks. Meskipun sama-sama menjelaskan matan, sebagian kitab hasyiyah disusun sebagai penjelasan ulang terhadap kitab syarah. Dalam konteks ini, hasyiyah dapat disebut sebagai syarah atas kitab syarah.

Salah satu contohnya ialah Hasyiyah al-Bajuri karya Syekh Ibrahim al-Bajuri. Kitab ini memberikan penjelasan mendalam terhadap Fath al-Qarib. Karena itu, kitab tersebut menjadi contoh hasyiyah yang menjelaskan sebuah kitab syarah..
Tak berhenti di situ, ternyata juga ada kitab hasyiyah yang disusun untuk menjelaskan kitab lain secara langsung tanpa menjadi syarah atas kitab syarah yang lain, seperti kitab Hasyiyah as-Sindi ‘ala Sunan ibn Majah, dan ‘Aun al-Ma’bud atau Hasyiyah ibn Qayyim ‘ala Sunan Abi Daud. Kitab-kitab tersebut disusun untuk memberikan catatan-catatan tepi dari kitab sunan tanpa perantara kitab lain.
Namun, sebagian ulama menggolongkan kitab-kitab tersebut sebagai kitab syarah, bukan hasyiyah. Perbedaan ini berangkat dari manuskrip yang dijadikan dasar oleh muhaqqiq dalam menetapkan judul kitab pada edisi cetak.
Sebagaimana dikutip dari NU.Online, dengan melakukan kajian manuskrip(filologi), metode penulisan kitab yang digunakan pengarang dapat diketahui untuk menentukan penamaan kitab oleh muhaqqiq dari pihak penerbitan.
Penutup
Perbedaan lain antara syarah dan hasyiyah terletak pada bentuk penjelasannya. Umumnya, uraian dalam hasyiyah lebih ringkas daripada syarah. Sesuai namanya, hasyiyah berisi catatan pinggir yang berfungsi sebagai penjelas sekaligus pelengkap. Oleh karena itu, catatan tersebut tidak selalu muncul pada setiap halaman.
Namun, tidak sedikit pula hasyiyah yang justru berkembang menjadi karya yang sangat tebal dan lebih luas pembahasannya. Oleh karena itu, pembeda utama keduanya bukanlah jumlah halaman, melainkan objek penjelasannya.
Syarah berfokus menjelaskan matan secara langsung, sedangkan hasyiyah memberikan penjelasan, komentar, atau kritik terhadap uraian yang telah ada, baik terhadap matan maupun terhadap kitab syarah yang telah lebih dahulu disusun.
Dari tradisi penulisan catatan pinggir ini, kita dapat melihat bahwa ulama Islam klasik tidak hanya mewariskan ilmu, tetapi juga membangun budaya akademik yang hidup.
Sebuah karya tidak dipandang sebagai teks yang telah selesai. Sebaliknya, karya tersebut menjadi ruang dialog yang selalu terbuka bagi penjelasan, kritik, penyempurnaan, dan pengembangan. Dari tradisi inilah lahir syarah, hasyiyah, dan taqrir yang saling melengkapi dalam mata rantai keilmuan Islam. Wallahua’lam.
