
Untuk saat ini,
hanya sapuan angin yang dapat menjadi pelipur cemas
Tepat di penghubung jalan
Janti, di bawah jembatan layang,
Tuhan membisikkan pertanyaan,
bersamaan dengan datangnya kereta dari timur
:
Mengapa manusia ditakdir untuk tumbuh dan mendewasa,
mengapa tidak dibiarkan berhenti di usia memasuki angka lima;
usia di mana kecemasan tidak lebih menggila,
tidak memikirkan bagaimana esok dan bagaimana nanti,
tidak terbesit akankah esok bisa menjadi unggul
seunggul dewa dalam penggalan kata “dewa-sa”.
?
Tuhan, Tuhan …
Kutuntut rahmatmu!
Maaf aku ralat, “kuharap rahmatmu …”
Jogja, 18 September 2026[Faidhumi]
Klik gambar untuk mendengarkan musikalisasi puisi.
