Oleh : Muhammad Ade Lasmaryatna
Problematika Umum Tentang Anxiety Disorder
Apakah kamu pernah maju kedepan khalayak umum kemudian tiba tiba berkeringat dan gemetar?
Tenang saja, kondisi ini biasa terjadi pada orang yang pertama kali naik panggung, hal ini sering disebut dengan demam panggung, rasa tersebut memang sangat mengganggu namun dengan seringnya tampil di depan khalayak umum, berbicara di depan orang banyak, disaksikan berpuluh puluh atau beratus ratus manusia, lambat laun kondisi yang dialami di atas akan sirna.
Rasa cemas yang demikian ini merupakan hal umum yang pasti dialami oleh setiap orang, namun bagaimana jadinya bila kecemasan ini disertai rasa gemetar menjalar ke seluruh tubuh, jantung berdetak kencang, keringat dingin serta perasaan khawatir yang tak kunjung padam?
Apalagi kalau gejala ini terus menerus terjadi setelahnya. Pasti akan sangat mengganggu bukan?
Gejala ini disebut dengan anxiety disorder yakni gangguan mental ditandai dengan cemas berlebihan yang sulit dikendalikan. Gangguan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal contohnya trauma, stres, hingga gejala fisik tertentu.
Pandangan Abu Zaid al-Balkhi
Jauh sebelum nomenklatur anxiety disorder ditemukan, pembahasan mengenai kecemasan yang timbul dari diri seseorang ini sudah sering dibahas dan menjadi topik pembahasan ulama Islam, salah satunya adalah ilmuan Islam abad ke-9 yakni Abu Zaid al-Balkhi Dalam kitab Mashalih al-Abdan wa al-Anfus.
Salah satu kutipan yang beliau gagas mengenai anxiety disorder adalah sebagai berikut:
“Adapun gejala yang sedang kita bicarakan ini, yaitu pikiran-pikiran yang muncul dalam diri dan bisikan-bisikan (gangguan pikiran)
Gejala ini tidak diketahui penyebabnya secara pasti, dan pada hakikatnya bukan pula suatu penyakit yang memiliki penyebab tertentu yang secara langsung menimbulkannya. Gejala ini hanyalah sesuatu yang terdapat dalam tabiat sebagian manusia sejak sebelum kelahirannya.
Pada diri orang tersebut terdapat tanda bahwa ia akan mengalami gangguan akibat pikiran-pikiran buruk yang sebenarnya tidak memiliki dasar atau kenyataan.
Kondisi inilah yang disebut sebagai ḥadīth al-nafs (pikiran-pikiran yang muncul dalam diri). Disebut demikian karena jiwanya terus-menerus membisikkan kepadanya berbagai hal berupa bisikan hati atau pikiran yang mengganggu.” ( hal. 149-150)
Dari ucapan beliau diatas memberi pemahaman bahwa hal ini memang murni tabiat manusia, bukan gejala yang muncul karena suatu sebab
Pikiran Merupakan Faktor Kesehatan Badan
Beberapa orang bisa selamat dari gejala ini sebab ia tidak terlalu memperdulikan bisikan yang ada dalam pikirannya, namun sebagian lainnya tidak selamat disebabkan ia terlalu memikirkan skenario yang mungkin akan terjadi, padahal kejadian tersebut tidaklah nyata hanya sebuah kemungkinan yang mungkin terjadi juga mungkin tidak terjadi.
Masalah utama dari gejala ini adalah seseorang terlalu dalam memikirikan sesuatu hal yang mungkin akan terjadi, berlarut larut menyusun adegan yang tidak bisa ia kendalikan,
alhasil pikirannya dipenuhi oleh ketakutan serta kekhawatiran akan kejadian buruk yang akan ia timpa, sehingga kemudian ia tidak bisa mengontrol pikiran yang seharusnya difokuskan pada situasi saat itu atau fokus memikirkan solusi terhadap hal yang akan terjadi.
Faktor Lain & Dampak Buruk
Penyebab gangguan pikiran belum dapat dipahami sepenuhnya, trauma akibat sebuah fenomena menjadi salah satu faktor yang mendukung gejala tersebut, tabiat seorang individu juga dapat menjadi sebuah faktor pendukung.
Dari sisi medis, bagi beberapa orang gangguan kecemasan bisa berawal dari gangguan kesehatan fisik, penyakit kronis yang terus menerus menggangu, perasaan perih berulang juga memperburuk gejala ini, seolah olah pengidapnya tidak memiliki waktu jeda yang dapat menjauhkannya dari hal tersebut.
Gejala ini akan berdampak sangat buruk apabila tidak segera diatasi, dikemudian hari ia akan menjadi seorang pendiam, introvert akut, sulit berkomunikasi, sehingga akhirnya rasa sosialnya hilang dan seolah olah ia tidak hidup di dunia nyata. dalam kitab Mashalih al-Abdan wa al-Anfus hal 150-151 imam al-Balkhi mengatakan bahwa :
“Salah satu dampak buruk gejala ini terhadap orang yang mengalaminya adalah bahwa jiwanya terus menghadirkan atau membayangkan suatu hal yang ia takuti, meskipun hal tersebut masih jauh darinya, ia bayangkan seolah-olah sudah dekat dan akan segera terjadi.
Ia terus menjadikannya sebagai pusat pikiran dan bayangannya setiap saat, seakan-akan ia sedang melihat dan mengawasinya, serta terus menunggu sesuatu yang ditakutinya itu benar-benar menimpanya.
Akibatnya, pikiran tersebut membuatnya tidak dapat menikmati kesenangan, keinginan, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sebagaimana orang lain dapat melakukannya.
Setiap kali ia ingin melakukan suatu aktivitas yang memang perlu ia kerjakan, atau ingin mendengarkan suatu pembicaraan untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain, pikirannya tiba-tiba kembali kepada hal yang membuatnya takut melalui berbagai pikiran dan bisikan yang mengganggu tersebut.
Gangguan pikiran itu membuatnya tidak dapat menikmati sesuatu secara sempurna atau mengikuti suatu pembicaraan sampai selesai. Alhasil hampir setiap saat kesenangannya menjadi terganggu dan keinginannya menjadi tidak tenang. Ia tidak mampu benar-benar menikmati sesuatu secara utuh atau memperoleh kepuasan darinya sebagaimana mestinya.”
dari penjelasan al-Balkhi di atas memberi pemahaman bahwa pikiran pengidap gejala ini selalu terfokus pada hal hal yang ia takuti akan terjadi, bayangannya tertuju pada skenario yang akan jatuh kepadanya, kemudian menunggu hal yang ditakuti tersebut benar benar menimpanya.
Akibatnya sangat jelas, bila ia sedang berada dalam suatu kelas ia tidak akan mendapat apa yang telah disampaikan guru, bila sedang melakukan pekerjaan ia tidak bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik, juga apabila ia sedang berkumpul dengan orang lain ia tidak akan betah berlama lama dalam tempat tersebut,
semua hal ini disebabkan gangguan pikiran yang terus menerus menghantuinya,
akibatnya hampir setiap saat kesenangannya terganggu, keinginan untuk menuju ketenangan tidak tercapai, ia tidak benar benar mampu menikmati sesuatu secara utuh juga tidak mampu memperoleh kepuasan darinya sebagaimana mestinya.
Dari penelitian modern terdapat banyak penemuan yang menjelaskan terkait dampak buruk gangguan pikiran, dilansir dari laman mayoclinic terdapat beberapa dampak negatif akibat gejala ini, seperti :
- Depresi (yang sering terjadi bersamaan dengan gangguan kecemasan) atau gangguan kesehatan mental lainnya.
- Penyalahgunaan zat.
- Kesulitan tidur (insomnia).
- Masalah pencernaan atau usus.
- Sakit kepala dan nyeri kronis.
- Isolasi sosial.
- Kesulitan berprestasi di sekolah atau tempat kerja.
- Kualitas hidup yang buruk.
- Bunuh diri.
Dampaknya akan semakin parah bila tidak segera ditangani, seperti disebutkan diatas orang yang mengidap gejala ini akan mengalami hal hal yang telah disebutkan bahkan berpotensi bunuh diri apabila tidak segera mendapat pertolongan.
Penanganan Utama
salah satu cara paling mudah adalah dengan mendiagnosa sendiri melalui pendekatan akar masalah, sebab hal ini terkadang muncul akibat penumpukan masalah yang tak kunjung diatasi.
Caranya adalah sebagai berikut :
Langkah awal yang harus dilakukan adalah mencari penyebab suatu masalah, seseorang akan lebih mudah menyelesaikan masalah apabila ia dapat menemukan akar masalah, selanjutnya memastikan apakah ternyata masalah ini bermuara pada suatu kejadian, dengan cara mengumpulkan berbagai kejadian-kejadian di masa kemarin yang terekam dalam ingatan sehingga memungkinkan untuk mengumpulkan hal tersebut, langkah ini disebut dengan verifikasi.
Kemudian memvalidasi apakah masalah ini memang benar berdasarkan kejadian tersebut. Jika ternyata benar barulah setelahnya membuat kesimpulan apakah masalah tersebut dapat diatasi sendiri, jika tidak maka harus dengan cara meminta bantuan orang lain.
Itu adalah penanganan utama, namun jika dirasa kurang, terdapat sebuah solusi yang ditawarkan oleh al balkhi di bawah ini
Solusi Yang ditawarkan
Gangguan kecemasan seperti yang telah dijelaskan dapat di atasi melalui dua metode yang dibawakan oleh abu zaid al balkhi, pertama, cara yang dilakukan melalui eksternal individu. kedua, melalui internal individu.
1. Upaya dari Eksternal
Upaya yang dapat digunakan dari eksternal adalah menghindari kesendirian juga menghindari mengasingkan diri dari orang lain. Sebab kesendirian dapat memicu munculnya berbagai gangguan pikiran dalam diri seseorang.
Hal ini didasari oleh kekuatan jiwa manusia pada dasarnya harus melakukan aktifitas, salah satu aktifitas yang sangat bermanfaat adalah bertemu dengan orang lain, berbicara dengan mereka, berdiskusi, serta berbagai bentuk komunikasi lainnya.
Ketika seseorang tidak memiliki aktifitas terutama pengidap gejala ini, maka pikirannya cenderung akan sibuk dengan berbagai bisikan dan gangguan yang selama ini mengacaukan dirinya, akibatnya penderitaan yang ia alami akan semakin berat.
Sebaliknya, ketika ia berada bersama orang lain dan sibuk berbicara atau berinteraksi dengan mereka, bisikan dan gangguan pikiran tersebut akan berkurang dan tidak memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap jiwanya.
Karena alasan inilah, mengasingkan diri dari manusia lain dipandang kurang baik, sebab seorang individu sangat dianjurkan untuk bergaul, berinteraksi, berdialog dan berbincang bersama orang lain.
2. Upaya dari Internal
Adapun cara yang perlu ia lakukan dari dalam dirinya adalah mempersiapkan pemikiran yang dapat digunakan untuk melawan bisikan dan gangguan pikiran tersebut ketika muncul dalam benaknya. Seolah olah ia sedang membantah lawannya dalam sebuah perdebatan.
Saat ia melihat lawannya mulai melemah dan berpegang pada suatu pendapat yang keliru, ia mengajukan argumen yang membatalkan pendapat tersebut juga menggugurkan klaimnya.
Demikian pula, ketika seseorang melakukan hal ini terhadap pikirannya sendiri, ia telah menjadikan dirinya sendiri sebagai pihak yang membantah dan melawan pikiran negatif dalam dirinya, sehingga ia dapat menunjukkan kesalahan pikiran tersebut dan membatalkan pengaruhnya terhadap dirinya.


